Ciri-ciri kepribadian
Semakin
konsisten karakteristik individu dan semakin sering terjadi dalam berbagai
situasi, maka semakin penting ciri-ciri itu untuk menggambarkan individu.
1.
16 ciri-ciri yang dianggap sumber perilaku yang konstan dan mantap yaitu
: pendiam – ramah, kurang cerdas – lebih cerdas, dipengaruhi oleh perasaan –
stabil secara emosional, penurut – dominan, serius – tak kenal susah, bijaksana
– berhati-hati, malu-malu – suka bertualang, keras – sensitif, percaya –
curiga, praktis – imaginatif, jujur – lihai, yakin – ragu-ragu, konservatif,
suka bereksperimen, tergantung kelompok – mandiri, tak terkendali – terkendali,
santai – tegang.
2.
The Myers-Briggs Type
Indicator (MBTI) : adalah salah satu kerangka kerja kepribadian dengan
100 pertanyaan yang menanyakan kepada orang bagaimana mereka biasanya bertindak
atau merasa dalam situasi tertentu. Individu pada akhirnya akan
diklasifikasikan sebagai ekstrovet (E) dan intovert (I), sensing (S) atau
intuitif (N), berpikir (T) atau merasa (F), dan memahami (P) atau menilai (J).
Hasilnya nanti akan dirangkai seperti misalnya INTJ dalah kaum visioner, ESTJ
adalah pengorganisasi, ENTP adalah pengagas, dllnya.
3.
c.
Model lima besar : adalah 5 dimensi dasar hasil riset terbaru yang
melandasi semua ciri dan meliputi sebagian besar variasi yang signifikan dalam
kepribadian manusia, yaitu :
a.
Ekstraversi : mencakup tingkat kesenangan seseorang akan hubungan. Orang yang
ekstravert akan cenderung suka berkelompok, tegas, dan mampu bersosialisasi.
Kaum introvert cenderung pendiam, malu-malu, dan tenang.
b. Kemampuan
untuk bersepakat : merujuk pada kecennderungan untuk tunduk pada orang lain.
Orang yang skornya tinggi akan kooperatif, hangat, dan percaya. Sedangkan yang
rendah akan dingin, tidak mampu bersepakat, dan antagonistik.
c. Sifat
mendengarkan suara hati : merupakan ukuran dari keandalan. Orang yang peka
terhadap suara hati akan bertanggung jawab, terorganisir, dapat dipercaya, dan
gigih. Sedangkan yang sebaliknya akan mudah bingung, tidak terorganisir, dan
tidak handal.
d.
Stabilitas emosional : merujuk pada kemampuan untuk bertahan terhadap stress.
Orang yang skornya tinggi akan cenderung tenang, percaya diri, dan aman. Yang
sebalinya akan cenderung gelisah, cemas, gugup, tertekan, dan tidak aman.
e.
Keterbukaan terhadap pengalaman : merujuk pada kisaran minat individual dan
kekaguman terhadap hal baru. Orang yang terbuka akan kreatif, ingin tahu, dan
sensitif secara artistik. Sedangkan yang sebaliknya akan konvensional dan
menemukan kenyamanan dalam keakraban.
Penelitian
atas kredibilitas Lima Besar ini menghasilkan sejumlah besar bukti bahwa
individu yang dapat dipercaya, andal, hati-hati, teliti, mampu membuat rencana,
terorganisasi, kerja keras, gigih, dan berorientasi pada prestasi cenderung
memilki jabatan yang lebih tinggi dalam sebagian besar atau semua kedudukan.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kepribadian
Faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap kepribadian seseorang oleh Robbins dikatakan ada tiga
yaitu sebagai berikut:
a. Keturunan
Bahwa kepribadian
seseorang dibentuk karena faktor orang tua seperti : pemalu, penakut, pemurung
atau sebaliknya.
b. Lingkungan
Bahwa kepribadian
seseorang banyak disumbang oleh lingkungannya seperti : budaya, norma-norma
keluarga, teman dan kelompok social lainnya. Diindia sejak dini sudah
ditanamkan nilai-nilai kerja keras, sederhana, kekerabatan kepada generasi
mudanya. Di Bali ada nilai-nilai rendah hati, suka membantu, ramah kepada orang
yang hingga kini tetap mewarnai kepribadian sebagian besar generasi mudanya.
c. Faktor yang lain
adalah situasi.
Artinya, kepribadian
seseorang banyak ditentukan oleh bawahan lahir, lingkungan yang relatif stabil,
akan dapat berubah karena kondisi situasi tertentu yang berubah.
Atribut kepribadain yang mempengaruhi perilaku
keorganisasian oleh Robbins (2001) dijelaskan sebagai berikut:
1.
Sumber kendali
a.Internal, kepribadian
yang menyakini bahwa segala apa yang terjadi dapat dikendalikan sendiri.
b.
Eksternal, kepribadian
yang meyakini bahwa apa yang terjadi tergantung pada kekuatan luar, seperti
kemujuran, naib, atau kesempatan.
2
Machiavellianisme
Kepribadian yang
cenderung kea rah fragmatis, menjaga jarak emosional, dan menyakini bahwa
tujuan dapat menghalalkan segala cara.
3
Penghargaan diri
Kepribadian yang suka/
atau tidak suka terhadap diri sendiri. Individu yang memiliki penghargaan yang
tinggi terhadap diri sendiri. Individu yang memiliko penghargaan yang tinggi
terhadap diri sendiri adalah individu yang sangat yakin bahwa kapasitasnya
lebih tinggi dari tuntutan pekerjaan, suka resiko, senag pekerjaan yang
menantang.
4
Pemantauan diri
Adalah cirri
kepribadian yang mengukur kemampuan dan menyesuaikan perilakunya kepada faktor
situasional.
5
Pengambilan resiko
Adalah kepribadian
yang menakar segala keputusannya dengan resiko. Bagi pengambil resiko tinggi
keputusan lebih cepat dan sedikit membutuhkan informasi, sebaliknya yang
terjadi pada pengambil resiko rendah.
Daftar kepribadian
yang panjang dan banyak kurang begitu popular dikalangan praktisi perilaku
keorganisasian oleh Kreitner dan Kinicki (2003) daftar yang panjang itu dikemas
menjadi “dimensi kepribadian lima besar” yang menurut hasil riset berkolerasi
positif dengan prestasi kerja pegawai, hal mana sangat membantu organisasi pada
saat merencanakan seleksi, pelatihan, dan penilaian karyawan.
Adapun kelima dimensi
kepribadian yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a.
Wawasan ekstra (extra version) : supel, dapat bersosialisasi,
tegas.
b.
Ramah (agreeableness) : bersifat baik, percaya, ramah, kerjasam,
berhati lembut.
c.
Teliti (conscientiousness) : dapat diandalkan, bertanggung
jawab, berorientasi prestasi, menonjol.
d.
Stabilitas emosional ( emotional stability) : rileks, aman,
tidak khawatir.
e.
Keterbukaan pada pengalaman (openese to experience) : cerdas,
imajinatif, ingin tahu, berpikiran luas.